3 Faktor yang Menghalangi Komunikasi Efektif Keluarga

FIKOM UIC, Jakarta - Komunikasi efektif di antara anggota keluarga, baik orangtua ke anak, pasangan orangtua, maupun anak dengan anak adalah salah satu kunci kebahagiaan keluarga. Komunikasi yang baik, efektif, dan berujung pada hal positif akan membantu menciptakan suasana nyaman, produktif, dan erat.
Menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani, Psi, komunikasi yang efektif bisa membantu mencegah masalah keluarga, komunikasi yang baik bisa membantu orangtua menyiapkan jalan terbaik untuk masa depan anak, termasuk dalam mengarahkan si anak untuk mencapai cita-citanya.
Sayangnya, ada beberapa hal yang kerap menghalangi komunikasi efektif dalam keluarga di Indonesia. "Salah satu hal yang paling umum menjadi faktor penghalang komunikasi efektif di keluarga Indonesia adalah kesungkanan. Seringkali, saat psikolog-psikolog Indonesia berkumpul, masalah kesungkanan di antara anggota keluarga disebut sebagai faktor yang menjadi penghalang komunikasi ini," kata psikolog yang akrab dipanggil Nina ini di acara bincang santai bersama Sariwangi, di Jakarta, Rabu (15/5).
Menurut Nina, ada beberapa suku di Indonesia yang sangat menekankan kehormatan pada orangtua. Ada aturan-aturan khusus dari suku tertentu yang sangat penting dilaksanakan. Hal ini tidak bisa dihindari. "Ada suku tertentu yang menekankan pentingnya rasa hormat kepada orangtua. Tidak boleh membantah, tidak boleh memprotes, dan sebagainya. Alhasil, si anak takut untuk bicara dan merasa ada hal-hal tertentu yang tak boleh dibicarakan kepada orangtua, hingga ia bersikap submisif. Tetapi ini hanya sebagian saja," tambah Nina.
Selain kesungkanan, faktor lain yang menjadi penyebab runyamnya komunikasi di antara keluarga adalah alasan klasik penghuni kota besar: tidak ada waktu. "Macet, sibuk di kantor, kegiatan di sekolah, dan sebagainya. Ketidakadaan waktu adalah alasan yang kerap menghalau keluarga untuk bisa berkomunikasi. Padahal, komunikasi berkualitas sebaiknya dilakukan setiap hari dan harus ada waktu yang disisihkan untuk berkomunikasi," jelas Nina.
Faktor ketiga, tambah Nina, adalah elektronik. "Gadget sangat bisa membuat seseorang kecanduan. Alat-alat elektronik bisa membuat keluarga disconnected. Connecting people, disconnecting family, guyonannya. Orangtua harus bisa memberi contoh. Jangan memaksa anak berhenti menggunakan alat elektronik tetapi dia selalu update status dan selalu lengket dengan perangkat elektroniknya sendiri," jelas Nina.
Penulis: Nadia Felicia/NAD