Fasilitas Komunikasi Maskapai Penerbangan Murah, Mungkinkah?

FIKOM UIC, Jakarta : Fasilitas komunikasi di udara bukan hanya milik maskapai yang menawarkan pelayanan penuh atau full service. Ternyata maskapai penerbangan yang mengusung konsep tarif rendah (low cost carrier/LCC) dinilai juga bisa memanfaatkan fasilitas komunikasi berupa wireless fidelity (wifi) atau satelit komunikasi sebagai penghasilan tambahan sekaligus memberikan pelayanan lebih kepada konsumennya.

Hal ini diungkapkan Konsultan Independen Penerbangan, Gerry Soejatman, yang mengatakan Indonesia menjadi negara yang hingga kini belum memberikan fasilitas komunikasi di atas pesawat, terutama yang mengusung konsep LCC.

"Hal ini nanti bisa dijadikan pendukung sebagai penghasilan tambahan bagi maskapai. Dukungan secara langsung, sebagai layanan berbayar untuk para penumpang, sedangkan dukungan tidak langsung, sebagai layanan berbayar untuk penumpang," ujar Gerry mengutip keterangan tertulisnya, Senin (6/5/2013).

Dia mengakui jika kini industri penerbangan menunjukkan perkembangan yang signifikan, termasuk salah satunya maskapai penerbangan dengan konsep LCC. Layanan pada maskapai ini dikenal tidak hanya menawarkan harga tiket yang murah tetapi juga minimnya pemberian pelayanan lainnya di Indonesia.

Padahal, di beberapa negara maskapai penerbangan LCC banyak yang tidak sepenuhnya memberikan pelayanan minim kepada konsumen, seperti penggunaan satelit komunikasi dan wifi untuk dukungan operasional mereka. Sebutlah maskapai penerbangan AirAsia (Malaysia), Air Phil Express, Virgin Australia, Norwegian Air Shuttle, dan Fly Dubai.

Khusus di Indonesia, dia mengaku belum mengetahui jika ada maskapai yang memberikan layanan komunikasi tersebut, terutama di maskapai LCC. Meski, layanan berbasis teknologi ini dinilai dapat dimanfaatkan sebagai bentuk layanan tambahan yang mesti dipilih dan dibebankan kepada para penumpang.

"Namun memang ada perubahan persepsi di Indonesia, sampai tahun 2011 kita menilai layanan wifi itu hanya untuk airline full service, tapi sejak 2011 bagi maskapai penerbangan LCC mulai berpikir, bagaimana satelit komunikasi bisa membantu LCC saya?," lanjut dia.

Menurut dia, jika adanya pergeseran persepsi baik para penumpang dan para industri maskapai penerbangan tentang alat komunikasi ini misalnya, ke depan pemisahan antara layanan penerbangan full service dan layanan penerbangan LCC akan tidak berarti.

"Fitur-fitur LCC akan mulai timbul di full service carrier dan fitur full service carrier akan timbul di LCC. Yang jelas, teknologi inilah yang akan menjadi penggerak dalam konvolusi segmen, " jelas Gerry.

Namun, dia mengakui jika ada beberapa kendala dalam penerapan fasilitas berbasis teknologi tersebut pada maskapai penerbangan Indonesia. Permasalahan ada pada Undang Undang (UU) Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dan UU Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

"Sekarang Satcom dan Wifi harus mematuhi kedua Undang-undang tersebut, namun kenyataannya 100 % dari Satcom yang digunakan di penerbangan di Indonesia tidak comply dengan UU Nomor 36 tahun 1999,"tegas Gerry.

Menjadi kendala untuk pengembangan sebuah industri besar, Gerry menghimbau kepada pihak-pihak terkait untuk sadar dan saling bekerjasama dalam mendukung perkembangan.

"Teknologi menjadi kunci inovasi bagi LCC. Kesadaran, kerjasama untuk mencari solusi regulasi terkait teknologi, antara Kemenhub, Kominfo, Airline, dan operator atau penyedia layanan lokal teknologi itu sangat diperlukan," tandasnya. (Yas/Nur)