Kemampuan Komunikasi Dokter di Indonesia Lemah

FIKOM UIC, Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengakui sebagian dokter di Indonesia belum memiliki tingkat profesionalisme yang memadai. Salah satu kelemahan yang paling mencolok dari dokter di dalam negeri adalah kemampuan menjalin komunikasi dengan pasien.

"Kalau bicara skill, kemampuan dokter Indonesia sudah diakui di dunia. Namun ketika berbicara soal komunikasi pada pasien, kemampuan dokter kita rendah sekali," ujar Ketua PB IDI Zaenal Abidin saat dihubungi, Selasa (7/5).

Namun lemahnya komunikasi antara dokter dan pasien bukan semata-mata kesalahan para dokter semata. Sistem pelayanan kesehatan yang buruk di dalam negeri berperan besar menciptakan suasana komunikasi yang buruk pada pasien.

Sistem kebijakan yang buruk, lanjut Zaenal, juga merupakan buah tangan ciptaan pemerintah/pelaku kebijakan. Dia mencontohkan kasus membludaknya pasien akibat kebijakan politik kesehatan gratis tanpa kaidah asuransi kesehatan dan sistem rujukan yang jelas disejumlah daerah.

Lantaran terlalu banyak pasien, walhasil dokter sulit menjalin komunikasi yang rapi dengan pasien.

"Situasi praktik dokter di Indonesia sudah seperti penjual karcis tol di loket. Belum apa-apa, antrean mobil di belakang sudah mengklakson minta segera dilayani."

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menegaskan pentingnya kesalamatan pasien. Hal itu penting untuk menghindarkan kejadian tidak diinginkan yang dapat menimpa pasien

WHO menyatakan idealnya dokter maksimal hanya boleh memeriksa 20-30 pasien secara terus menerus. Sedangkan dokter gigi sebanyak 12-15 pasien. Pasalnya pemeriksaan yang dilakukan kurang dari 15 menit dapat menimbulkan resiko dampak kejadian yang tidak diinginkan pada pasien semakin meningkat.

Praktik medis di Indonesia pada saat ini, lanjut Zaenal, masih jauh dari kriteria minimal WHO. Dia mencontohkan ketika awal-awal Kartu Jakarta Sehat (KJS) diterapkan di Jakarta, dalam sehari orang yang diperiksa di puskesmas/RS bisa mencapai 300-500 orang.

IDI, lanjut dia, tidak pernah lelah untuk meningkatkan profesionalisme dokter. Namun tanpa perbaikan sistem kesehatan yang baik, walhasil upaya tersebut bakal sia-sia.

Zaenal juga berharap agar publik Indonesia menjadi pasien yang cerdas, yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai orang pasien.

Dihubungi terpisah, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjayarta mengatakan untuk meningkatkan profesionalisme dokter, negara kita harus memiliki standar profesi dan standar pelayanan medis yang berlaku baku di semua rumah sakit. (Cornelius Eko Susanto)

Editor: Agus Tri Wibowo