Strategi Obrolan agar Anak dan Suami Mau Lebih Terbuka kepada Anda

FIKOM UIC, Jakarta - Kesibukan seringkali jadi alasan kurangnya komunikasi antar anggota keluarga. Padahal, komunikasi yang efektif adalah kunci untuk mempertahankan rumah tangga dan keluarga yang harmonis.

Tanpa disadari, berbagai permasalahan dalam keluarga kerap muncul akibat kurang efektifnya komunikasi. Apabila kondisi tersebut dibiarkan terlalu lama, bukan tidak mungkin masalah kecil bisa jadi konflik besar seperti gumpalan bola salju.

Komunikasi efektif tidak selalu diukur dari banyaknya frekuensi perbincangan atau pertemuan keluarga. Paling penting adalah kualitas kebersamaan dan dari obrolan itu bisa menghasilkan sesuatu yang memberikan solusi. Oleh karena itu menciptakan komunikasi efektif perlu strategi yang pintar. Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, Psi, berbagi tipsnya untuk Anda.

1. Mendengarkan
Bukan sekadar mendengar apa yang disampaikan suami atau anak Anda. Tapi perhatikan juga intonasi suara, ekspresi wajah dan pertahankan kontak mata. Hal ini penting untuk membaca dan memahami apa yang sebenarnya mereka maksud.

2. Bertanya
Untuk lebih menggali apa yang anggota keluarga sampaikan, pastikan ada interaksi yang intens. Tapi usahakan tidak mencecar dengan banyak pertanyaan sekaligus.

"Setelah tanya, sebaiknya kita diam dulu. Kasih waktu lima detik. Lihat ekspresi lawan bicara, kontak mata. Jangan dicecar," ujar psikolog yang akrab disapa Nina ini, saat acara bincang santai 'Komunikasi Keluarga: Berkomitmen untuk Kebersamaan Keluarga yang Bermakna' yang diadakan Sariwangi di ANZ Tower, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (15/05/2013).

3. Pilih Momen Khusus
Pemilihan waktu jadi hal utama untuk mewujudkan komunikasi efektif di lingkungan keluarga. Anda bisa memilih momen saat makan malam atau setelahnya, menonton TV, menjelang tidur atau di akhir pekan. Pastikan momennya menyenangkan.

"Waktu ideal ini sangat relatif. Tergantung sensitivitas sang ibu. Bisa siang, sore, malam. Janjian aja, misalnya, 'eh habis makan malam kita kumpul ya'," terang Nina.

4. Atur Gerak & Posisi Tubuh
Ketika obrolan mengarah pada topik yang sensitif dan membuat emosi suami atau anak meledak-ledak, jaga suasana agar tetap tenang dengan bersikap tenang juga. Jangan sampai intonasi vokal Anda meninggi karena bisa memancing emosi lawan bicara.

"Berdiri sambil kacak pinggang, itu sikap menekan. Tapi kalau sambil duduk tenang dengan intonasi lembut, rendah, pasti dia juga akan menyamakan sikap Anda," tutur psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.

5. Sambil Melakukan Aktivitas yang Menyenangkan
Cari hal-hal apa saja yang disukai suami atau anak dan jadikan itu sebagai pembuka topik yang ingin dibicarakan. Misalnya saja ajak bermain board game, monopoli, Uno atau scrabble. Komentari hasil permainan dan hubungkan dengan kondisi saat ini.

"Dari obrolan kecil tentang game tapi bisa dikembangkan sampai membicarakan cita-cita anak, atau jika anaknya remaja bisa tahu rencana kuliah. Kita juga bisa arahkan dia untuk menuju cita-citanya," jelas Nina.

Strategi lainnya, ajak mengobrol sambil menghidangkan camilan dan minuman. Menurut Nina, makanan dan minuman merupakan 'ice breaking' yang efektif untuk memecah kebekuan.

(hst/eny)